Otak Buatan Bisa Kembalikan Ingatan?

Gambar terkait

Dalam film “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”, sang karakter menjalani pembedahan untuk menghapus ingatan. Nah, bagaimana jika sebaliknya? Bisakah Anda mengembalikan ingatan? Seorang neurolog sedang berusaha melakukannya.

Theodore Berger dari University of Southern California tengah mengembangkan otak prostesis (perangkat organ buatan) untuk mengembalikan memori dengan menggantikan sirkuit pada hipokampus otak. Berger memperkenalkan perangkatnya tersebut di Global Future 2045 International Congress, yang digelar pada 15-16 Juni. Setelah berhasil diterapkan pada tikus dan monyet kini otak buatan itu tengah menjalani pengujian pada manusia.

Mesin memori
Hipokampus, sebuah struktur otak yang terletak jauh di dalam lobus temporalis otak, adalah bagian otak yang mengubah memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang. Epilepsi atau kelainan otak lainya bisa merusak hipokampus, menyulitkan seseorang dalam mengingat hal-hal baru.

Perangkat yang dikembangkan Berger dan rekan-rekannya bisa menggantikan bagian hipokampus yang rusak dan bahkan meningkatkan kemampuannya. Sebuah chip elektroda kecil yang ditanam pada hipokampus merekam sinyal yang mewakili memori jangka pendek, sinyal itu dikirim ke sebuah komputer yang mengubahnya secara matematis menjadi memori jangka panjang, dan sinyal yang mewakili memori jangka panjang dikirim ke rangkaian elektroda kedua yang merangsang lapisan hipokampus lainnya.

Inti dari perangkatnya bukanlah untuk mengindentifikasi memori seseorang, namun mempelajari bagaimana memori itu diubah menjadi memori jangka panjang. “Ini seperti mempelajari peraturan penerjemahan,” kata Berger, menambahkan bahwa memori sama seperti kata-kata, dan transformasi matematis sama seperti penerjemah.

Tim Berger menguji perangkat itu pada tikus yang dilatih untuk melakukan tugas yang membutuhkan daya ingat sederhana. Setiap tikus (yang dipasangi otak prostesis) ditempatkan di sebuah ruang dengan dua tuas. Pertama, satu tuas di satu sisi ditampilkan, dan tikus itu akan mendorongnya.

Tidak lama setelah itu, dua tuas ditampilkan di dua sisi, dan jika tikus tersebut mendorong tuas yang berbeda dengan tuas pertama, maka tikus itu akan terkena percikan air. Untuk dapat mengingatnya si tikus harus mengingat tuas yang mana yang didorong pertama.

Untuk menguji otak prostesis mereka, para ilmuwan menyuntikkan obat yang mengurangi daya ingat alami tikus-tikus tersebut, dan mengujinya dengan percobaan tuas. Tikus tersebut masih mampu mendorong tuas yang tepat agar mereka mendapatkan minum, menunjukkan bahwa mereka mampu membentuk memori baru. Dengan kata lain, implan otak merupakan bagian yang membuat mereka mampu mengingat sesuatu.

Hebatnya, para ilmuwan menemukan bahwa prostesis itu juga bisa meningkatkan daya ingat pada tikus bahkan saat tikus-tikus tersebut diberi obat yang menurunkan daya ingat.

Pengingat pengganti
Tim Berger menemukan bahwa perangkat itu sama efektifnya saat diuji pada monyet. Para ilmuwan kini tengah melakukan percobaan pada manusia yang mengidap epilepsi. Mereka masih belum mendapatkan banyak data, kata Berger, namun ia merasa hasilnya akan memuaskan.

Mencari tahu bagaimana mengubah memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang secara matematis merupakan suatu tantangan besar, kata Berger — Anda hanya memiliki satu kali kesempatan untuk melakukannya dengan benar.

Kemampuan otak untuk beradaptasi akan menjadi sangat penting untuk keefektifan perangkat tersebut pada manusia, kata Berger. “Manusia akan memberikan lebih banyak pengaruh terhadap perangkat itu dibandingkan perangkat terhadap manusia itu sendiri.”

Hal yang paling penting, bahwa prostesis memori itu diharapkan bisa mengembalikan atau meningkatkan daya ingat manusia. Namun implikasi filosofisnya yang melibatkan memori sangat besar: jika manusia mampu mengendalikan memorinya, bisakah mereka mengubahnya? Bisakah memori dibongkar dan digunakan sebagai bukti di pengadilan?

Dan bisakah orang-orang menghapus memori mereka dan mengantinya di waktu bersamaan? Sayangnya, untuk saat ini, pertanyaan itu masih belum terjawab.