10 Penemu Islam Terbaik Di Dunia Dalam Bidang Teknologi

Penemu Islam ternyata banyak memberikan sumbangsih yang berharga bagi peletak dasar kemajuan teknologi saat ini. Banyak penemuan mereka yang diciptakan mengilhami penemuan selanjutnya yang lebih modern.

Tapi sayang, mereka kurang dikenal masyarakat luas karena naskah yang diterbitkan hilang atau tidak terekspos ke hal layak umum.

Berikut serupedia akan mengulas 5 Penemu Islam Dalam Bidang Teknologi Terbaik Sepanjang Masa.

1. Al Jazari – Penemu Konsep Mesin Robot Modern

Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin” (Donald Hill).

Kalimat di atas merupakan komentar Donald Hill, seorang ahli teknik asal Inggris yang tertarik dengan sejarah teknologi, atas buku karya ahli teknik Muslim yang ternama, Al-Jazari.

Al Jazari merupakan seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri. Lahir dai Al Jazira, yang terletak diantara sisi utara Irak dan timur laut Syiria, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat. Al-Jazari merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya.

Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas. Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi.

Ia dipanggil Al-Jazari karena lahir di Al-Jazira, sebuah wilayah yang terletak di antara Tigris dan Efrat, Irak. Seperti ayahnya ia mengabdi pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli teknik.

Donald Routledge dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh Al-Jazari.

Pada 1206 ia merampungkan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan dunia teknik. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, “al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal” (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Bukunya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Karyanya ini sangat berbeda dengan karya ilmuwan lainnya, karena dengan piawainya Al-Jazari membeberkan secara detail hal yang terkait dengan mekanika. Dan merupakan kontribusi yang sangat berharga dalam sejarah teknik.

Keunggulan buku tersebut mengundang decak kagum dari ahli teknik asal Inggris, Donald Hill (1974). Donald berkomentar bahwa dalam sejarah, begitu pentingnya karya Al-Jazari tersebut. Pasalnya, kata dia, dalam buku Al-Jazari, terdapat instruksi untuk merancang, merakit, dan membuat mesin.

Di tahun yang sama juga 1206, al-Jazari membuat jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang. Kini replika jam gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya.

Pada acara World of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak orang yang berdecak kagum dengan hasil karya Al-Jazari. Pasalnya, Science Museum merekonstruksi kerja gemilang Al-Jazari, yaitu jam air.

Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad dan enam puluh delapan tahun setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.

Tulisan Al-Jazari juga dianggap unik karena memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas. Sebab ahli teknik lainnya lebih banyak mengetahui teori saja atau mereka menyembunyikan pengetahuannya dari orang lain. Bahkan ia pun menggambarkan metode rekonstruksi peralatan yang ia temukan.

Karyanya juga dianggap sebagai sebuah manuskrip terkenal di dunia, yang dianggap sebagai teks penting untuk mempelajari sejarah teknologi. Isinya diilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Hasil kerjanya ini kerap menarik perhatian bahkan dari dunia Barat.

Dengan karya gemilangnya, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia selama 25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir al-Din Mahmoud.

Al-Jazari memberikan kontribusi yang pentng bagi dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Mesin pemompa air yang dipaparkan dalam bukunya, menjadi salah satu karya yang inspiratif. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negari Barat.

Jika menilik sejarah, pasokan air untuk minum, keperluan rumah tangga, irigasi dan kepentingan industri merupakan hal vital di negara-negara Muslim. Namun demikian, yang sering menjadi masalah adalah terkait dengan alat yang efektif untuk memompa air dari sumber airnya.

Masyarakat zaman dulu memang telah memanfaatkan sejumlah peralatan untuk mendapatkan air. Yaitu, Shaduf maupun Saqiya. Shaduf dikenal pada masa kuno, baik di Mesir maupun Assyria. Alat ini terdiri dari balok panjang yang ditopang di antara dua pilar dengan balok kayu horizontal.

Sementara Saqiya merupakan mesin bertenaga hewan. Mekanisme sentralnya terdiri dari dua gigi. Tenaga binatang yang digunakan adalah keledai maupun unta dan Saqiya terkenal pada zaman Roma.

Para ilmuwan Muslim melakukan eksplorasi peralatan tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Al-Jazari merintis jalan ke sana dengan menguraikan mesin yang mampu menghasilkan air dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan mesin yang pernah ada sebelumnya.

Al-Jazari, kala itu, memikul tanggung jawab untuk merancang lima mesin pada abad ketiga belas. Dua mesin pertamanya merupakan modifikasi terhadap Shaduf, mesin ketiganya adalah pengembangan dari Saqiya di mana tenaga air menggantikan tenaga binatang.

Satu mesin yang sejenis dengan Saqiya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus dan diperkirakan mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai tersebut.

Mesin keempat adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan sebuah engkol.

Mesin itu diketahui merupakan mesin pertama kalinya yang menggunakan engkol sebagai bagian dari sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Dan hal itu dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa.

Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda. Ia menghasilkan gerakan berputar yang terus menerus. Pada masa sebelumnya memang telah ditemukan engkol mesin, namun digerakkan dengan tangan. Tetapi, engkol yang terhubung dengan sistem rod di sebuah mesin yang berputar ceritanya lain.

Penemuan engkol mesin sejenis itu oleh sejarawan teknologi dianggap sebagai peralatan mekanik yang paling penting bagi orang-orang Eropa yang hidup pada awal abad kelima belas. Bertrand Gille menyatakan bahwa sistem tersebut sebelumnya tak diketahui dan sangat terbatas penggunaannya.

Pada 1206 engkol mesin yang terhubung dengan sistem rod sepenuhnya dikembangkan pada mesin pemompa air yang dibuat Al-jazari. Ini dilakukan tiga abad sebelum Francesco di Giorgio Martini melakukannya.

Sedangkan mesin kelima, adalah mesin pompa yang digerakkan oleh air yang merupakan peralatan yang memperlihatkan kemajuan lebih radikal. Gerakan roda air yang ada dalam mesin itu menggerakan piston yang saling berhubungan.

Kemudian, silinder piston tersebut terhubung dengan pipa penyedot. Dan pipa penyedot selanjutnya menyedot air dari sumber air dan membagikannya ke sistem pasokan air. Pompa ini merupakan contoh awal dari double-acting principle. Taqi al-Din kemudian menjabarkannya kembali mesin kelima dalam bukunya pada abad keenam belas.

2. Abbas Ibnu Firnas – Penemu Konsep Pesawat Terbang

Abbas Qasim Ibnu Firnas (di Barat dikenal dengan nama Armen Firman) dilahirkan pada tahun 810 Masehi di Izn-Rand Onda, Al-Andalus (kini Ronda, Spanyol). Dia dikenal ahli dalam berbagai disiplin ilmu, selain seorang ahli kimia, ia juga seorang humanis, penemu, musisi, ahli ilmu alam, penulis puisi, dan seorang penggiat teknologi. Pria keturunan Maroko ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol).

Pada tahun 852, di bawah pemerintahan Khalifah Abdul Rahman II, Ibnu Firnas memutuskan untuk melakukan ujicoba ‘terbang’ dari menara Masjid Mezquita di Cordoba dengan menggunakan semacam sayap dari jubah yang disangga kayu. Sayap buatan itu ternyata membuatnya melayang sebentar di udara dan memperlambat jatuhnya, ia pun berhasil mendarat walau dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal sebagai parasut pertama di dunia.

Keberhasilannya itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori yang ia adopsi dari gejala-gejala alam yang kerap diperhatikannya.

Pada tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibnu Firnas merancang dan membuat sebuah mesin terbang yang mampu membawa manusia. Setelah versi finalnya berhasil dibuat, ia sengaja mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Penerbangan yang disaksikan secara luas oleh masyarakat itu terbilang sangat sukses. Sayangnya, karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang membuat Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.

Kecelakaan itu terjadi karena Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Cedera punggung yang tak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di laboratorium. Seperti biasanya, ia meneliti gejala-gejala alam di antaranya mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat, menentukan tabel-tabel astronomis, dan merancang jam air yang disebut Al-Maqata. Ibnu Firnas pun berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dari pasir. Juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk memperlihatkan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang.

Patrons karya Abbas ibn Firnas. Sebuah puncak Science yang menelusuri angkasa luar yang menandai kegemilangan zaman al-Andalus. Dari dasar-dasar grafitasi ini ibn Firnas sudah menentukan dasar-dasar bagi pembuatan pesawat angkasa, 600 th sebelum Leonardo da Vinci berimaginasi dengan planetariumnya.

Yang tak kalah menariknya, Firnas berhasil mengembangkan proses pemotongan batu kristal, yang pada saat itu hanya orang-orang Mesir yang mampu melakukannya. Berkat penemuannya ini, Spanyol saat itu tidak perlu lagi mengekspor quartz ke Mesir, tapi bisa diselesaikan sendiri di dalam negeri.
Salah satu penemuannya yang terbilang amat penting adalah pembuatan kaca silika serta kaca murni tak berwarna. Ibnu Firnas juga dikenal sebagai ilmuwan pertama yang memproduksi kaca dari pasir dan batu-batuan. Kejernihan kaca atau gelas yang diciptakannya itu mengundang decak kagum penyair Arab, Al-Buhturi (820 M – 897 M).

Abbas Ibnu Firnas wafat pada tahun 888, dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan ujicoba pesawat layang buatannya.

Walaupun percobaan terbang menggunakan sepasang sayap dari bulu dan rangka kayu tidak berhasil dengan sempurna, namun gagasan inovatif Ibnu Firnas kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbangnya. Kemudian sekitar 200 tahun setelah Bacon (700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas), barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan.

Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa gegap gempitanya industri pesawat terbang modern seperti saat ini, tidak lepas dari perjuangan seorang Ibnu Firnas yang rela babak belur untuk sekadar melayang sebentar layaknya burung terbang.

Sosok Abbas Ibnu Firnas, kini hanya bisa kita temui tercetak di atas sebuah prangko buatan Libia, menjelma pada sosok patung dan nama lapangan terbang di Baghdad, dan abadi di salah satu kawah permukaan Bulan.

3. Taqiyuddin Asy-Syami – Penemu Teleskop Pertama

Jika sebelumnya kita hanya tahu bahwa Teleskop pertama kali ditemukan oleh Hans Lippershey pada tahun 1608 M. atau Galileo Galilei pada tahun 1609 M., terungkap sebuah fakta baru yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut; bahwa sekitar 30-an tahun sebelum mereka berdua, seorang pakar Astronomi dan Optik Muslim, Taqiyuddin Asy-Syami (1526-1585 M.) telah membuat Teleskop sebelum tahun 1574 M.

Taqiyuddin Asy-Syami adalah seorang Saintis Turki Muslim, pakar di bidang Astronomi, Mekanika, Fisika, Matematika, Biologi, Farmasi, Psikologi, Filsafat, dan Teologi. Telah mengarang lebih dari 90 buku di bidang-bidang tersebut, namun hanya 24 buku saja yang berhasil terselamatkan. Beliau disebut-sebut sebagai Saintis terbesar di muka bumi di masa Khilafah ‘Utsmaniyah (Ottoman).

Dan kali ini, kita akan masuk pada sebagian sumbangsih beliau di bidang Astronomi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Astronomi modern hari ini memiliki kaitan erat dengan para Ilmuwan Islam di Abad pertengahan. Termasuk juga Teleskop. Mengingatnya, kita harus melihat kembali sumbangsih ‘Abbas bin Firnas saat menemukan ‘Lensa Baca’ (yang kala itu disebut dengan ‘Reading Stone’). Kita juga harus melihat kembali sumbangsih Ibnu Al-Haytsam saat beliau menemukan Kacamata Medis pertama di dunia, serta teori-teori beliau dalam ilmu Optik yang belum didahului oleh ilmuwan mana pun di dunia, yang hingga hari ini masih kita pelajari di sekolah-sekolah.

Taqiyuddin Asy-Syami pun tidak mungkin dapat tiba-tiba menciptakan Teleskop tanpa sumbangsih para leluhurnya dari kalangan ilmuwan Islam. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika suatu saat terungkap fakta baru bahwa Taqiyuddin Asy-Syami bukanlah ilmuwan Muslim pertama yang menemukan Teleskop. Bisa jadi, beliau telah didahului oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim sebelum beliau, mengingat begitu banyaknya karya-karya Astronomi para ilmuwan Muslim yang hilang entah ke mana. Hilang seusai Perang Salib dan invasi Mongol Tartar.

Taqiyuddin Asy-Syami juga menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana Teleskopnya itu dapat membantu seseorang untuk melihat objek-objek yang jauh dengan detail, melalui cara mendekatkan gambaran objek-objek tersebut dengan begitu dekat.

Asy-Syami juga menjelaskan bahwa beliau telah menulis sebuah buku khusus yang menjelaskan tetang metode pembuatan Teleskopnya tersebut dan cara menggunakannya. Namun sayangnya, penulis sampai saat ini tidak mengetahui judul buku yang beliau karang ini. Sebagaimana sangat disayangkan pula, Teleskop beliau ini tidak berhasil ditemukan wujudnya hari ini. Kami berharap akan terungkap fakta-fakta lebih lanjut terkait Teleskop tertua ini di kemudian hari.

4. Ibnu Al Haitham – Penemu Kamera

Kamera adalah satu diantara penemuan utama yang diraih umat manusia. Lewat bidikan serta bidikan kamera, manusia dapat merekam serta mengabadikan bermacam bentuk gambar dari mulai sel manusia sampai galaksi diluar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, saat ini dikuasai peradaban Barat dan Jepang. Hingga, banyak umat Muslim yang yakini kamera datang dari peradaban Barat.

Dalam teknologi kamera, juga ada kerancuan histori dimana bangsa Barat menyebutkan kalau teknologi kamera pertama kalinya dirintis oleh Kepler yang diklaim temukan Kamera Obscura di tahun 1611 M. Walau sebenarnya diakhir era ke-10 M, Ibnu Al Haitham lah yang temukan Kamera Obscura itu untuk pelajari fenomena gerhana matahari.

Kamera ini bekerja dalam prinsip pencitraan simpel, dimana Al Haitham bikin lubang kecil pada dinding yang sangat mungkin gerakan matahari dapat diproyeksikan lewat permukaan datar. Hasil riset ini lalu ditulis Al Haitham dalam Kitab Al Manazir (buku optik) yang diduga di baca oleh Joseph Kepler serta lalu diperkembang dengan jadi besar proyeksi gambar memakai lensa negatif di belakang lensa positif.

Jauh sebelumnya orang-orang Barat menemukannya, prinsip-prinsip basic pembuatan kamera sudah dicetuskan seseorang sarjana Muslim sekitaran 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu yaitu seseorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir era ke-10 M, al-Haitham sukses temukan satu kamera obscura.

Itulah satu diantara karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang begitu inspiratif itu sukses dikerjakan al-Haithan berbarengan Kamaluddin al-Farisi. Keduanya sukses mempelajari serta merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu bermula saat keduanya pelajari gerhana matahari. Untuk pelajari fenomena gerhana, Al-Haitham bikin lubang kecil pada dinding yang sangat mungkin citra matahari semi fakta diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian pengetahuan optik berbentuk kamera obscura tersebut yang memicu kemampuan kamera yang sekarang ini dipakai umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini dengan cara harfiah disimpulkan sebagai ”ruang gelap”. Umumnya memiliki bentuk berbentuk kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu sudah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung serta dimainkan pada beberapa pemirsa.

“Kamera obscura pertama kalinya di buat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade serta Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument : from camera obscura to Helmholtz’s perspective.

Dunia mengetahui al-Haitham sebagai perintis dibidang optik yang populer lewat bukunya bertopik Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk menunjukkan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lantas membuat Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap. Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn al-Haytham : First Scientist mengungkap kalau Kitab al-Manazir adalah buku pertama yang menerangkan prinsip kerja kamera obscura. “Dia adalah ilmuwan pertama yang sukses memproyeksikan semua gambar dari luar tempat tinggal kedalam gambar dengan kamera obscura,” tutur Bradley.

Arti kamera obscura yang diketemukan al-Haitham juga dikenalkan di Barat sekitaran era ke-16 M. Lima era sesudah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang dipengaruhi pemikiran al-Haitham mulai ganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).

Kemudian, pemakaian lensa pada kamera onscura juga dikerjakan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada juga yang mengatakan kalau arti kamera obscura yang diketemukan al-Haitham pertama kalinya dikenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler tingkatkan manfaat kamera itu dengan memakai lensa negatif di belakang lensa positif, hingga bisa jadi besar proyeksi gambar (prinsip dipakai dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).

Kemudian, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai membuat kamera yang berupa kecil, tanpa ada kabel, macamnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Sesudah 900 th. dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kalinya dipakai dengan cara permanen untuk menangkap gambar yang dibuat oleh kamera obscura. Foto permanen pertama di ambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.

Tahun 1855, Roger Fenton memakai plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris sepanjang Perang Crimean. Dia meningkatkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya -yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman meningkatkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan sangat baik. Eastman membuat kamera Kodak. Mulai sejak tersebut, kamera selalu beralih ikuti perubahan teknologi.

Satu versi kamera obscura dipakai dalam Perang Dunia I untuk lihat pesawat terbang serta pengukuran kemampuan. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga dipakai untuk mengecek keakuratan navigasi perangkat radio. Demikianlah penciptaan kamera obscura yang diraih al-Haitham dapat merubah peradaban dunia. Peradaban dunia modern pasti begitu berutang budi pada pakar fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham sepanjang hidupnya sudah menulis kian lebih 200 karya ilmiah.

Semuanya didedikasikannya untuk perkembangan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih kagum pada pencapaian teknologi Barat, hingga kurang menghormati serta mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di masa kejayaan Islam.

5. Hassan Al-Rammah – Penemu Roket

Meskipun orang-orang China yang menemukan bubuk mesiu, dan menggunakannya untuk kembang api mereka, tetapi bangsa Arab yang mengembangkan metode pemurniannya dengan menggunakan potassium nitrate untuk keperluan militer.

Perangkat bom buatan ksatria Muslim ini menakutkan bagi ksatria Salib. Menjelang abad ke-15 kaum Muslim telah berhasil menemukan roket, yang mereka sebut “self-moving and combusting egg” [telur mudah terbakar dan dapat bergerak sendiri], dan juga terpedo – sebuah bom berbentuk buah pear yang dapat bergerak sendiri dengan sejenis tombak pada bagian depan yang mengarahkan ke kapal-kapal musuh dan kemudian meledak.

Pada abad ke-13 sarjana Suriah, Hassan Al-Rammah (w. 1294-1295), menulis sebuah buku yang luar biasa pada teknologi militer, yang menjadi sangat terkenal di barat. Roket yang pertama kali didokumentasikan adalah termasuk di dalam buku, model yang dipamerkan di National Air and Space Museum di Washington DC penulis mengunjungi Washington pada bulan September 2000 di mana ia memperoleh informasi lebih lanjut tidak hanya pada roket, tetapi juga pada bahan bakar. Kemudian, ia memperoleh salinan yang diedit buku dari editor Ahmad Al-Hassan.

Orang Cina tahu mesiu di abad ke-11 tetapi tidak tahu proporsi yang tepat untuk mendapatkan ledakan dan tidak mencapai diperlukan pemurnian potasium nitrat. Buku Cina pertama, yang merinci proporsi bahan peledak, ditulis pada 1412 oleh Huo Lung Ching.

Al-Rammah buku adalah yang pertama untuk menjelaskan prosedur pemurnian potasium nitrat dan menggambarkan banyak resep untuk membuat mesiu dengan proporsi yang benar untuk mencapai ledakan. Hal ini diperlukan untuk pengembangan kanon.

Partington, mengatakan “koleksi resep mungkin diambil dari berbagai sumber pada waktu yang berbeda dalam keluarga penulis dan diwariskan. Semacam itu digambarkan sebagai resep diuji.” Al-Razi, Al-Hamdany dan Syriaque arab-naskah abad ke-10 menggambarkan kalium nitrat. Bin Al-Baytar menjelaskan di 1240. Syriaque bahasa Arab-naskah abad ke-10 memberikan beberapa resep mesiu. Diasumsikan bahwa ini ditambahkan pada abad ke-13.

Buku bahasa Latin Liber Ignium Marcus Graecus ini awalnya ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan di Spanyol. Ini memberi banyak resep untuk membuat mesiu, empat terakhir yang mungkin telah ditambahkan ke buku di 1280 atau 1300 . “Apakah berasal Roger Bacon yang terkenal mesiu rumus rahasia dalam Epistola dari ca.1260 dari tentara salib Petrus dari Maricourt, beberapa wisatawan lain atau dari berbagai dari bahasa Arab dan membaca buku-buku alkimia?”

Para ilmuwan Jerman Albert Magnus memperoleh gelar informasi dari Liber Ignium, yang aslinya dalam bahasa Arab buku seperti dikatakan di atas. Bukti penggunaan mesiu selama Perang Salib di Fustat, Mesir, pada 1168 itu ditemukan dalam bentuk bekas potasium nitrat. Seperti jejak juga ditemukan di 1218 selama pengepungan Dumyat dan dalam pertempuran Al-Mansoura pada 1249. (dari berbagai sumber)